Bioskop Bisik

You Are Viewing

A Blog Post

Mari Menonton Sambil Berbisik

Gedung bioskop yang biasanya lengang dan hanya diisi suara para aktor dalam film, kali ini berbeda. Suara bisik-bisik jelas terdengar walau pelan. Bukan terjadi antara dua orang saja, tapi hampir seluruh penonton dalam bioskop kali ini berbisik-bisik.

Aaaakkk!

“Ada apa?”

“Pocongnya lewat!”

Yang bertanya kemudian menggumamkan “oh” panjang, disisipi sedikit gelak tawa.

Seperti itulah situasi program Bioskop Bisik yang diperuntukkan bagi para tunanetra. Bioskop ini mengharuskan satu relawan pembisik bertanggung jawab mendeskripsikan adegan yang diputar di dalam film kepada satu penonton tunanetra. Utamanya, adegan-adegan yang hanya diperankan dengan gerakan tubuh dan tanpa dialog.

M. Reza Akbar yang lahir pada 1985 dengan pancaindera sempurna dan menjadi tunanetra pada 2010 akibat pecahnya pembuluh darah adalah salah seorang penonton tunanetra yang langganan mengikuti bioskop bisik. Baginya ada pengalaman yang begitu mengesankan ketika kembali dapat menikmati film seperti orang kebanyakan.

“Awal dengar bingung, ‘bagaimana nontonnya?’ Setelah dijelaskan caranya dan ikut, ternyata seru dan saya suka, mangkanya saya rajin ikut,” ungkap pria yang akrab disapa Ega ini kepada Tirto.

Agar tidak canggung, para relawan pembisik diberi waktu untuk berkenalan dan komunikasi singkat dengan penonton selama setengah jam sebelum film diputar. Biasanya, ia terlebih dulu meminta pembisiknya agar menjelaskan adegan dengan singkat dan padat agar tak tertinggal adegan selanjutnya.

“Soalnya seringkali panjang lebar, jadi kita bentrok sama adegan berikut yang pakai dialog.”

Mengikuti program bioskop bisik juga memberi pengalaman yang unik dan lucu buatnya. Saat menonton film horor seperti diceritakan di atas, Ega mendapati pembisiknya terlebih dulu berteriak ketakutan. Tentu saja ia dan teman-temannya bertanya-tanya, apa adegan yang sedang terjadi. Atau, saat visualisasi adegan diceritakan secara berbeda-beda oleh pembisiknya dan pembisik teman-temannya.

“Pembisik ini kan punya latar belakang dan bercerita yang beda-beda, jadi walau cerita dan alurnya sama, kami membayangkan membayangkan adegannya berbeda-beda, lucu.”

Bioskop Bisik sebenarnya hanyalah nama baru dari kegiatan nonton bareng tunanetra dan relawan pembisik yang sudah beberapa kali dilakukan oleh Yayasan Mitra Netra. Kemudian Think.Web, perusahaan media digital di Indonesia yang mengembangkan situsweb youtubefortheblind.com, bekerja sama dengan Komunitas Fellowship of Netra Community (Fency) Yayasan Mitra Netraton sepakat menamai kegiatan ini sebagai Bioskop Bisik.

Youtubefortheblind.com sendiri merupakan program menonton film-film yang ada di Youtube dengan subtitle yang bisa dibaca oleh mesin text to speech bagi tunanetra.

Membangun Kesadaran Sosial

Ramya Prajna Sahisnu, CEO Think.Web mengatakan tujuan utama program ini adalah untuk membangun kesadaran sosial terhadap sesama, utamanya kepada tunanetra. Untuk itu, sebisa mungkin ia menempatkan para pembisik sesuai dengan umur tunanetranya. Saat Bioskop Bisik diselenggarakan buat tunanetra anak, maka pembisiknya pun anak-anak.

Ada dua format menonton di Bioskop Bisik, yakni satu pembisik buat banyak tunanetra dan satu pembisik untuk satu tunanetra. Dalam kegiatan dengan format pertama, biasanya tak ada batasan berapa tunanetra yang bisa hadir, sebab pembisik menggunakan alat interpreter.

“Format itu hanya meluluskan tujuan yang kedua, yakni memberikan pengalaman nonton bioskop. Karena tujuan utamanya membangun kesadaran kepada si mata biasa [pembisik], maka yang paling sering dijalankan adalah one on one,” katanya kepada Tirto.

Program Bioskop Bisik ini kadang mengalami kendala, misalnya tidak tersedianya film yang akan diputar, hingga persoalan format film yang tidak sesuai dengan tempat pemutaran film. Namun kendala-kendala tersebut berhasil dilewati. Terbukti, sudah lebih dari satu tahun Bioskop Bisik berjalan semenjak 2015 lalu.

Selama itu pula ia berusaha untuk memberikan pengalaman menonton yang benar-benar dilakukan di bioskop. Juga, berusaha menggandeng para aktor, aktris, produser, sutradara, bahkan kru yang terlibat di dalam film tersebut untuk menjadi relawan pembisiknya.

Saat pertama kali Bioskop Bisik digelar di Galeri Indonesia Kaya dengan memutar film Janji Joni, sang sutradara Joko Anwar menjadi salah satu pembisik. Nirina Zubir pemeran Aku Ingin Ibu Pulang juga menjadi pembisik bagi tunanetra anak.

“Tapi yang terakhir itu bonus, kita mau kasih tahu nonton bioskop tuh begini dan kalian juga bisa lho nonton, itu jadinya memang mengusahakan untuk di gedung bioskop daripada sekadar di aula.”

Bagi Ramya, salah satu pengalaman yang berkesan saat menjalankan Bioskop Bisik adalah pemutaran film Cahaya dari Timur di Istana Negara dengan Presiden Jokowi sebagai salah satu pembisiknya. Namun, setiap penyelenggaraan baginya terasa penting.

“Itu seperti kegiatan recharge!”

Tak Hanya di Indonesia

Bioskop untuk tunanetra seperti yang digagas Rama dan kawan-kawan ternyata bukanlah gagasan yang baru dicetuskan di Indonesia. Jauh sebelum Bioskop Bisik Indonesia, ada program Unmukt di India yang digagas oleh organisasi Essar Foundation dan Saksham Trust di tahun 2013.

India merupakan salah satu negara dengan populasi tunanetra terbesar. Diperkirakan ada sekitar 14 juta orang buta dan 28 juta orang dengan penglihatan rendah ada di negara ini.

Bedanya, program yang diselenggarakan Essar Foundation dan Saksham Trust membuat sebuah program berbasis audio yang mampu mendeskripsikan adegan bisu agar para tunanetra dapat menikmati jalannya film dengan berbekal deskripsi audio tanpa harus melibatkan pembisik.

 

“Ini adalah kesempatan bagus untuk memperkenalkan deskripsi audio ke bisokop-bioskop untuk memberikan kebebasan untuk tunanetra dapat mengakses film dengan leluasa,” kata Deepak Arora, CEO Essar Foundation pada situsweb Essar.

Selain di India, Mesir juga menerapkan konsep bioskop yang serupa Bioskop Unmukt di India pada 2016 lalu. Adalah Masreya Media, sebuah perusahaan pengisi suara, penerjemah, dan pengisi teks di film yang telah mengaplikasikan deskripsi audio pada film-film yang bisa dinikmati tunanetra di Mesir.

Teknik ini memungkinkan film, program televisi, opera, pertunjukan teater, dan pameran dapat diakses oleh tiga juta tunanetra di Mesir. Program ini juga memberi narasi tambahan untuk menggambarkan adegan, bahasa tubuh, ekspresi wajah dan kostum sehingga dapat mengisi kekosongan yang tak mampu dilihat tunanetra.

Jika Masreya Media dalam rilis yang ditulis alaraby.co.uk mengatakan bahwa menonton film di bioskop seharusnya untuk bagi semua golongan, Ega mengatakan tunanetra tak butuh belas kasihan dan hanya butuh kesempatan.

“Gue tetap bisa menikmati hidup ini dan melakukan apa yang orang lain lakukan, tapi dengan cara yang berbeda.”

Leave a Reply